Senin, 25 Maret 2013

WAHAI ISTANA PANDAI-PANDAILAH MEMBACA FENOMENA..



Istana yang katanya merupakan simbol sebuah Negara belum lama ini kebanjiran, tepat bersamaan dengan kebanjirannya rakyat Jakarta yang sedang gigih berjuang melawan banjir, memang banjirnya Istana tidak separah dengan banjirnya rakyat Jakarta sebab menurutku selama ini belum pernah fenomena ini terjadi sebelumnya. Seharusnya pihak Istana bisa membaca fenomena ini dimana Tuhan seolah-olah mau bilang kepada Istana,”Ini baru banjir kecil karena suatu saat nanti akan aku kirim banjir besar, kalau seandainya kamu tidak bisa merubah sikap terhadap rakyat.” Lha terus aku bilang,”Apakah selama ini pihak istana bersikap adigang, adigung, adiguna terhadap rakyat sehingga harus dikirim  banjir ke istana?” Terus Tuhan menjawab,”Aku jauh lebih tahu daripada kamu!” 

Belum lama ini juga terjadi kantor polisi kebakaran, habis ada perseteruan antara TNI dan polisi yang seharusnya bersinergi dalam menjaga keamanan sebuah bangsa, kejadian ini menurut saya lagu lama yang sampai sekarang diantara mereka masih menyimpan dendam, walaupun secara institusi mereka seolah-olah berdamai, kenapa bisa terjadi seperti itu? Ya.. katanya gara-gara Lalu lintas… 

O…kalau itu mah kecil, lha wong sekarang mantan dedengkotnya Lalu lintas aja baru konsentrasi dengan masalah hukum, dimana kekayaannya sedang diobok-obok oleh KPK, ini menunjukan berarti benar anggapan masyarakat yang sudah menjadi rahasia umum yaitu rekening gendut anggota polisi, karena saat ini KPK  baru mengambil satu sampel yaitu Irjen DS, bagaimana kalau seandainya KPK mengambil sampel sepuluh jendral polisi? Apa yang terjadi pada institusi Polri? Mungkin Polri bisa bubar? Diganti pemain baru yang namanya KPK… 

Ya..kalau secara akal sehat kita mengatakan bahwa pemain pengganti dalam sebuah sepak bola kalau sudah mengganti ya..konsekwensinya pemain lama harus mundur diganti dengan yang baru. Lha ini kan enggak! Pemain lama masih bermain terus pemain baru juga bermain dimana meraka  mempunyai yang posisi sama, apa yang terjadi? Ya.. mereka pada berebut bola sendiri yang pada akhirnya akan bunuh diri…  mereka pada berebut kasus. Apa yang terjadi pada kasus simulator SIM? Apa yang terjadi pada ungkapan ‘cicak melawan buaya’?  Karena itu merupakan contoh dari rebutan kasus diantara mereka… 

Saat polisi ditanya wartawan Apakah polisi siap diperiksa KPK tetang rekening gendut anggota polisi? Oleh polisi dijawab dengan singkat dan nggak jelas,”Polisi taat pada hukum.” Kalau menurut saya itu bukan jawaban atas pertanyaan tersebut yang harusnya di jawab ‘polisi siap diperiksa KPK’ atau ‘polisi belum siap diperiksa KPK’. Tapi disini polisi mau bilang kepada rakyat bahwa citra mereka ‘seolah-olah’ baik di hadapan rakyat. 

Kalau orang-orang pinter sering mengatakan Indonesia adalah negera hukum, hukum adalah panglima… lalu apa pengaruhnya terhadap penegakan hukum di Indonesia? Kenyataanya memang para orang yang dianggap pinter itu banyak yang melangggar hukum, sebenarnya ia (orang pinter) itu sadar dia telah melanggar hukum, tapi dengan ‘kepinteranya’ dia bisa membolak-balik pasal hukum dari yang salah bisa menjadi benar atau yang benar bisa jadi salah…

Sebaiknya Negara kita itu jangan di dasarkan pada hukum, lalu didasarkan pada apa? Ya..sebaiknya Negara kita berdasarkan pada Akhlak yang baik, dan moral adalah panglima, melalui  blog ini saya hanya mau bilang cukup dengan akhlak yang baik yang tertanam di hati nurani saja, orang tidak akan melakukan pencurian, pembunuhan, pemerkosaan dan tidak kejahatan yang lain. Walaupun seandainya tidak ada hukum sama sekali.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar