Ada seorang penjual mie ayam malam-malam sekitar jam 20.00
wib menjajakan barang daganganya,”dog..dog..dog. Mie.. ayam beli mie ayam.. dog.. dog.. “
sahut penjual mie ayam menjajakan mie nya dengan memukul-mukul kenthongan di
jalan kampong, tiap malam dia kerjanya hanya mendorong gerobak mie nya,
berusaha untuk mengais rejeki untuk menghidupi keluarganya.
Aku coba mengikuti dia di malam itu, dia terus menjajakan
mie ayam mutar-mutar di jalan kampung, ya.. memang waktu itu agak sepi, tapi
dia tetap terus menjajakan mie ayam, sesampai di depan surau dia berhenti,
terus dia ambil air wudlu untuk sholat isya, aku pun mengikutinya, aku juga
ambil air wudlu untuk sholat isya’, akhirnya kita sholat isya berjamaah,
selesai sholat aku bermaksud membeli mie ayamnya.. yang kebetulan aku waktu itu belum makan malam.
Aku : Pak, mie ayam
satu.
Parmin(penjual mia ayam) :
Ya.. den.
Dia sibuk membuatkan
mie ayam, aku perhatikan dia tampak kelelahan sekali, kayak habis jalan yang
jauh.. aku merasa iba pada laki-laki paruh baya ini.. kok malam-malam gini
masih jualan ya.. harusnya kan dia istirahat, bercengkrama bersama keluarganya.
Akhirnya dia selesai membuatkan mie ayam.
Parmin : ini den, mie ayamnya.
Aku : ya..
Wuih.. ternyata lumayan juga mie ayamnya, apa karena aku
belum makan malam ya.. tapi nggak kok mie ayam ini memang enak kok.
Aku : Pak kok sampai malam jualanya?
Parmin : Iya den, biasanya aku dah sampai rumah menjelang
maghrib.
Aku : lha kok sampai malam belum pulang.
Parmin : ya.. biasanya aku pagi jam 9 sudah berangkat jualan
terus maghrib aku dah pe rumah. Tapi karena aku tadi pagi harus periksakan
anakku ke puskesmas karena sakit panas. Jadi
aku bisa jualannya jam 3 sore.
Aku : oo.. anak bapak sakit, umurnya anak?
Parmin : 3 tahun.
Aku : Anak bapak
berapa?
Parmin : 2. Yang besar sudah kelas 4 SD dan yang kecil baru
3 tahun.
Aku : Isteri bapak kerja?
Parmin : Nggak, den. Dia ibu rumah tangga.
Aku : Jadi bapak tulang punggung keluarga.
Parmin : iya den.
Aku : eh.. pak
biasanya dalam sehari laku berapa mangkok?
Parmin : ya.. nggak mesti den. Tapi kalau di rata-rata ya 10
sampe 15 makok, bahkan malah kadang nggak laku sama sekali juga pernah.
Aku : oo.. lah untuk
hari ini laku berapa mangkok, pak?
Parmin : baru 1 mangkok, hari ini baru aden yang membeli
dagangan saya.
Aku : ???
Aku kaget bukan kepalang, dari tadi jam 3 sore sampe malam
gini belum ada semangkok pun yang laku..,”pikirku.
Aku : Bapak nggak
kecewa, dengan keadaan seperti ini.
Parmin : Nggak den, Bagiku keadaan seperti ini dah biasa
menimpaku, Rejeki itu sudah ada yang mengatur, kewajibanku sebagai manusia
hanya berusaha, berusaha dan berusaha terus sampai keringat terakhir menetes di
daguku. Kerja keras adalah prinsipku, hasilnya berapa, itu bukan urusanku.. aku
hanya menjalani sebuah proses.
Tak terasa akupun dan selesai makan mie ayam , aku tertegun
kagum dengan ulah seorang penjual mie ayam
itu.
Aku : Dah pak..
berapa jadinya ?
Parmin : 5 ribu den.
Dia melanjutkan perjalanannya sambil terus menjajakan mie
ayam, aku pun akhirnya pulang. Dan aku jadi ingat doanya Nabi Ibrahim AS ,”
Hasbunallahu wa ni’mal wakil.” (Cukuplah Allah yang menjadi wali ku dalam
segala urusanku).
Dari kasus ini kita bisa mengambil pelajaran yang sangat
berharga yaitu:
Kalau kita melihat orang sakit, lihatlah bahwa ada Allah pada orang sakit itu,
Kalau kita melihat orang yang lemah tak berdaya lihatlah bahwa ada Allah di dalam orang yang lemah itu, Kalau kita lihat orang yang teraniaya maka lihatlah ada Allah dalam diri orang yang teraniaya itu,
Kalau kita melihat orang fakir miskin, maka lihatlah bahwa ada Allah di dalam diri si fakir itu,
Kalau kita melihat anak yatim yang teraniaya, maka Allah menjelmakan diri pada anak yatim itu.
Kalau kita melihat orang sakit, lihatlah bahwa ada Allah pada orang sakit itu,
Kalau kita melihat orang yang lemah tak berdaya lihatlah bahwa ada Allah di dalam orang yang lemah itu, Kalau kita lihat orang yang teraniaya maka lihatlah ada Allah dalam diri orang yang teraniaya itu,
Kalau kita melihat orang fakir miskin, maka lihatlah bahwa ada Allah di dalam diri si fakir itu,
Kalau kita melihat anak yatim yang teraniaya, maka Allah menjelmakan diri pada anak yatim itu.
Begitulah.. betapa senangnya Allah jika kita mengulurkan
tangan kita untuk mereka, karena semua yang kita lihat, yang kita degar dan
yang kita rasakan.. itu ada Allah yang menyertainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar